<Bahasa> IndonesiaIndonesia JepangJepang

Situs informasi mengenai investasi real estate di Indonesia dan Jepang

HOME > Perbedaan Transaksi Sewa-Menyewa di Jepang dan di Indonesia

Perbedaan Transaksi Sewa-Menyewa di Jepang dan di Indonesia

Perbedaan utama transaksi sewa menyewa di Jepang dan di Indonesia ada pada metoda pembayaran, pembatalan selama kontrak, tatacara pembaruan kontrak, dan tanggung jawab penyewa selama masa perjanjian sewa rumah.

1. Perbedaan pembayaran dan tatacara pembatalan atau pembaruan selama kontrak

Kalau di Jepang masa kontrak biasanya 2 tahun tapi di Indonesia bisa kontrak dengan bebas per 1 tahun tergantung negosiasi dengan pemilik.
Soal pembayaran sewa rumah, di Jepang biasanya per 1 bulanan tapi di Indonesia dilakukan sekaligus untuk pembayaran sebesar masa waktu kontrak.
Pembatalan di tengah masa waktu kontrak, biasanya di Jepang dikabulkan bila 1 bulan sebelum pembatalan pemilik diberitahu secara tertulis, tapi di Indonesia pembatalan selama kontrak berlangsung tidak diperkenankan. Itu karena Indonesia tidak memiliki undang-undang penangguhan hak atas sewa menyewa (undang-undang perdata pasal 618) yang ada ketentuan waktunya yang ditetapkan oleh hukum perdata di Jepang, sehingga mau tidak mau bila menyelesaikan kontrak di tengah masa kontrak, uang sewa rumah yang sudah dibayar pada dasarnya tidak bisa dikembalikan.
Pembaruan kontrak setelah masa kontrak selesai penuh, ditentukan oleh persetujuan pemilik dan penyewa, selain itu penolakan pembaruan oleh pemilik perlu alasan hukum, namun hampir semua kasus bisa diperbarui. Di Indonesia, karena tidak ada hukum seperti persyaratan pembaruan, penolakan, dan lain-lain atas perjanjian sewa menyewa bangunan yang diatur oleh peraturan sewa tanah dan sewa rumah di Jepang (ketentuan sewa tanah dan sewa rumah pasal 28), penolakan pembaruan sesuai kehendak pemilik dimungkinkan. Bila pembaruan ditolak oleh pemilik saat pembaruan kontrak, atau bila pemilik menjual propertinya kepada pihak ketiga selama kontrak masih berlangsung, dan pemilik baru tidak memperbarui kontrak, maka harus pindah ke tempat hunian lain.

Selain itu, bersamaan dengan naiknya harga properti, ketika kontrak akan diperbarui terkadang pemilik properti menagih mahal sewa rumahnya, dalam kasus ini ada juga yang terpaksa tidak mau memperbarui.
Bila membandingkan kebiasaan transaksi sewa menyewa di Jepang dan Indonesia, tidak ada peraturan yang melindungi penyewa seperti di Jepang, praktik kontrak yang menjadi hegemoni pemilik.
Karena resiko seperti ini yang akan menyertai, maka sebelumnya pastikan dulu ke pemilik tentang pembatalan saat kontrak berlangsung dan penanganan pembaruan kontrak, bila dibutuhkan penting dinegosiasikan penambahan pasal yang diperlukan ke surat kontrak sebagai item perjanjian istimewa.

Perbedaan kondisi kontrak sewa menyewa

Item Jepang Indonesia
Masa waktu kontrak Biasanya2tahun Diatur bebas per 1 tahun
Pembayaran sewa Dibayar per 1 bulan Dibayar sekaligus sebesar lama waktu kontrak
Pembatalan selama kontrak berlangsung Prinsipnya, beritahu ke pemilik 1 bulan sebelumnya Tidak bisa dibatalkan di tengah kontrak
Pembaruan saat masa kontrak berakhir Kesepakatan pemilik dan penyewa Pemilik bebas menolak pembaruan kontrak

2. Perbedaan tanggung jawab penyewa selama kontrak

Fasilitas untuk umum di apartemen umum ditangani oleh kantor pengelola bangunan sama seperti di Jepang, sedang untuk fasilitas di dalam ruang sewa diajukan ke pemilik melalui perantara saat kontrak.
Kalau di Jepang (termasuk apartemen yang menyediakan furnitur dan perangkat elektronik) untuk perbaikan skala kecil (penggantian barang konsumsi seperti lampu, packing air kran, dan lain-lain) dan kerusakan akibat kesengajaan, di luar beban penyewa menjadi tanggung jawab pemilik, sedang di Indonesia biasanya pada ayat-ayat kontrak tanpa mempersoalkan kesalahan yang disengaja oleh penyewa, sampai batas jumlah tetap (sekitar 50-200 dolar) harus ditanggung oleh penyewa.
Bila menyewa apartemen yang dilengkapi furnitur, maka termasuk untuk perbaikan furnitur dan perangkat elektronik yang disediakan dari awal. Untuk properti baru yang belum ditempati, furnitur dan perangkat elektroniknya baru, tetapi untuk properti yang tidak baru banyak barangnya yang sudah dipakai, contoh bila kulkas rusak oleh ketidaksengajaan pun harus menanggung biayanya dalam batas yang ditentukan pada kontrak.。
Di samping itu, fasilitas yang perlu perhatian secara khusus di dalam fasilitas yang disediakan adalah pendingin AC. Karena frekuensi pendingin AC pemakaiannya tinggi, mudah terjadi kerusakan seperti kebocoran air.
Kewajiban pemeriksaan pendingin AC secara berkala (penggantian filter, pembersihan, dan lain-lain) ditentukan di kontrak sebagai kewajiban penyewa, mengenai kerusakan yang disebabkan karena kelalaian kewajiban tersebut maka pemilik sama sekali tidak menanggungnya. Sebab itu, penyewa biasanya harus membersihkan pendingin AC 3 bulan sekali sebagai tanggung jawab sendiri.

Seperti iitu bedanya dengan Jepang, kewajiban penyewa selama kontrak berlangsung dan bebannya ditetapkan dalam kontrak sehingga perlu sebelumnya memastikan detail kontrak.

Peta pendukung

Informasi terkait jual beli properti dan investasi

Formulir mail ada di sini
Kembali ke awal halaman